Jumat, 02 Desember 2011

Manusia Baru di dalam Kristus

Ketika kita menjadi orang Kristen, akan terjadi satu perombakan mendasar yang kalau dikaitkan dengan Rm 12:1-2 dikatakan, "Berubahlah oleh pembaharuan budimu." Dimana kata "berubahlah" menggunakan kata metamorfosa yang artinya perubahan yang menyeluruh dalam seluruh aspek sehingga bentuk bahkan naturnya pun berubah. Semua ini merupakan satu bentuk perubahan yang bukan sekedar fenomena tetapi perubahan mendasar di dalam seluruh natur kehidupan, seperti halnya seekor ulat yang menjadi kupu-kupu. Disini terdapat satu hal yang dikontraskan yaitu antara menanggalkan manusia lama (22) dengan menggenakan manusia baru (24). Hal ini bagaikan seseorang yang membuka baju yang lama (manusia lama) lalu menganti dengan sebuah baju yang baru (manusia baru). Paulus mengatakan bahwa barangsiapa yang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru yang diciptakan menurut kehendak Allah. Dua hal ini menjadi gabungan yang begitu penting untuk dimengerti. Barangsiapa didalam Kristus itu berarti Ia harus menanggalkan esensi hidup, iman dan roh pikirannya yang lama lalu masuk ke dalam esensi hidup yang baru dan iman yang sesungguhnya. Banyak orang Kristen yang ketika percaya, gagal mempercayakan diri masuk kedalam kepercayaan tersebut dan akhirnya ia hanya mau memanipulasi. Pada saat seperti itu ia gagal mengalami pembaharuan mendasar daripada roh pikirannya, dengan demikian ia belum masuk dalam pengertian iman yang sesungguhnya.

Ketika Paulus masuk kedalam pengertian "Mengenakan manusia baru," disitu ia menggunakan satu struktur kalimat yang sangat tepat. Dengan menggunakan struktur aorist middle ia ingin menekankan bahwa ketika kita harus mengenakan manusia baru, itu bukanlah dalam bentuk present tense (sebagai kontinuitas/ sekedar dapat dikerjakan setiap hari dan dapat ditukar dengan yang lama apabila bosan) melainkan sesuatu hal yang sekali dikerjakan maka harus berdampak kekekalan, terus berkelanjutan sampai akhir. Dan disini Paulus bukan menggunakan format pasif (dalam arti orang itu dipaksa untuk melakukannya) tetapi menggunakan bentuk resiprok (middle voice/ Yunani) itu lebih kearah perlakuan yang kembali pada diri sendiri. Kalau saya memutuskan mengenakan manusia baru, berarti saya siap untuk berjalan dalam pertimbangan hidup manusia baru. Karena itu Paulus mengatakan, tidak akan mungkin kondisi ayat 24 dapat dikerjakan kecuali ayat 23 telah dapat diselesaikan sebab roh pikiran kita tidak akan memungkinkan untuk rela menggarap dan menjadikan hal seperti itu.

Apakah kita berpikir kalau menjadi orang Kristen dan akhirnya dilarang tidak boleh bohong, korupsi, nepotisme, melakukan berbagai macam kecurangan dan kejahatan, itu dianggap sebagai suatu kesulitan? Bukankah ketika Tuhan mengajar dan membatas kita maka seluruh larangan dan batasan diatur demi kebaikan kita, demi kita dapat menjadi manusia sejati yang mempermuliakan Tuhan. Pada saat seperti itu mari kita memikirkan kembali, mengapa kita sulit untuk mengenakan manusia baru? Pada hakekatnya itu karena roh pikiran kita belum dibuka oleh Tuhan, karena ketika ia boleh sadar kalau hidupnya dicengkeram dosa, terbelenggu dan menghancurkan, ia akan dengan rela keluar dari situ untuk kembali pada kondisi manusia baru. Bukankah itu merupakan satu anugerah yang terlalu besar? Bagi saya iman Kristen sejati adalah yang sudah mengenakan manusia baru. Karena esensi daripada kekristenan tidak dapat diganti sebab itu merupakan inti yang sudah merubah dia. Ia tidak akan ingin untuk kembali pada manusia lama karena ia sangat sadar kalau ia kembali, itu tidak akan menguntungkannya tetapi justru menghancurkan dan tindakan bunuh diri yang sangat merugikannya. Inilah yang Paulus tekankan dalam hidup kita yang berarti bagaimana perubahan iman Kristen bukan secara otomatis terjadi tetapi merupakan satu tugas perjuangan karena Tuhan sudah membuka pengertian kita.

Selanjutnya, dalam point kedua Paulus langsung membatasi dengan kalimat kedua supaya tidak timbul adanya kesalahan. Sebab hal ini dapat menjadikan orang Kristen sombong ketika ia sukses dan dapat berubah. Padahal disatu pihak kita berjuang tetapi dilain pihak yang memungkinkan hal itu terjadi adalah karena kehendak Allah. Tuhanlah yang berinisiatif sehingga hal itu mungkin terjadi. Banyak orang salah mengerti di dalam pengertian Theologi Reformed karena salah menangkap antara perjuangan manusia dengan kedaulatan Allah yang bekerja. Karena ketika orang Kristen menangkap konsep kedaulatan Allah dan predestinasi maka orang Kristen jadi berpikir untuk semua itu tidak diperlukan perjuangan. Alkitab mengatakan bahwa disatu pihak Tuhan memang berdaulat dan menetapkan ciptaan berdasarkan kehendak Allah. Penciptaan memang diluar kemampuan kita untuk memilih, termasuk juga ciptaan ulang. Setiap kita waktu lahir itu merupakan anugerah kedaulatan yang membuat kita boleh lahir. Dan waktu Tuhan mendatangi saudara dan membentuk satu titik temu dimana saudara bertobat hari itu, tidak pernah saudara mungkin bayangkan kalau hari itu akan bertobat. Disini kita tidak dapat mendualismekan antara Allah menetapkan dan memilih kita, dengan kita meloloskan diri dari tugas auris midle "mengenakan manusia baru" yang Tuhan tuntut untuk kita bekerja dan melayani. Bagaimana kita harus berubah di dalam seluruh roh pikiran untuk boleh kembali pada Tuhan. Saudara, kalau kita mengerti hal ini, baru Tuhan bawa kedalam satu konsep yang lebih dalam yaitu kita boleh mulai memparadokskan bagaimana Allah di dalam kehendaknya sedang memimpin saudara dan saya untuk boleh berubah sehingga tidak ada satupun daripada kita yang berhak sombong ketika Tuhan mengubah kita.

Sekali lagi saya kembali pada hal yang pertama dimana ketika Paulus mengatakan, "Engkau berbeda," Itu karena Tuhan beranugerah. Kita dapat mengalami pembaharuan pikiran karena kita dicipta ulang dalam kehendak Allah di dalam Kristus sehingga kita menanggalkan manusia lama dan menggenakan manusia baru. Saudara dapat melihat seluruh struktur ini. Kekristenan adalah satu kondisi dimana roh pikiran kita diperbaharui sehingga ketika kita melakukan sesuatu, kita melakukannya karena Tuhan memimpin Roh pikiran dan itu menjadi natur saya untuk mau menyenangkan Tuhan. Konsep seperti ini menjadikan kita kembali pada dasar yang paling dasar yaitu the will of God dalam hidup kita. Kemungkinan saudara dan saya untuk masuk ke dalam point kedua, ini bukanlah hal yang sederhana. Seberapa jauh dalam hidup, kita berdoa supaya hari ini Tuhan pimpin sehingga kita boleh menjalankan kehendaknya. Ataukah setiap hari saudara berdoa namun tidak pernah melihat kehendak Allah yang mencipta saudara secara baru dan gagal kembali mengerti esensi daripada manusia baru tersebut. Disini yang saya harapkan Tuhan mengubah, membentuk dan mengajar kita.

Dalam ayat 24 Paulus ketat sekali menambahkan kata sesungguhnya. Di tengah dunia ini seringkali terjadi kepalsuan yang begitu kelihatan indah, benar dan kudus tetapi sebenarnya didalamnya terdapat kepalsuan yang luar biasa. Bagaimana saya kembali pada kehendak Alah, iman yang sejati di dalam struktur religiusitas yang diterapkan secara tepat. Hanya satu kemungkinan yaitu saya kembali pada Allah yang mencipta ulang dan membentuk kembali sebagai satu ciptaan yang baru dimana kembalinya kita kepada kehendak Allah yang sejati. Seberapa banyak kita boleh sama-sama bergumul menjadi anak-anak Tuhan yang sesungguhnya? Semakin hari dari generasi ke genarasi bukan menjadi dunia yang semakin enak tetapi justru semakin sulit yang akan mereka alami. Mungkinkah kita masih hidup berkenan kepada Allah? Disaat seperti itu, bagaimana Kekristenan mengajar jemaat dan jemaat mau saling dibina untuk benar-benar mentaati kehendak Tuhan. Saya mengharapkan dari seluruh jajaran Kekristenan boleh belajar mengerti kebenaran, bergumul bersama dan menggarap kehendak Allah.AMIN.

GBU.ALLL.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar